Bismillah...
Mendapat kesempatan mengunjungi salah satu pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Pulau Sebatik itu sesuatu bangeett. Mau oleh-olehnya? Ini diaaa.. Story of Sebatik..hehe
Karena baru kali pertama, perjalanan waktu itu jadi bikin hati penasaran, jantung berdegup kencang, pikiran melayang-layang. #Lebaydikit :D Walaupun sudah terbayang bagaimana perjalanan yang akan dilalui hingga sampai di pulau itu, tapi rasanya pengalaman lebih berkesan dari pada sekadar bayangan (bukan begitu penonton? :D). Menuju bandara Soekarno Hatta di pagi buta, pukul 04.00,saya berangkat dari Rawamangun. Perjalanan yang lumayan panjang. Belum ada pesawat yang langsung mengantar kita ke Tarakan, jadi transit dulu di Bandara Sepinggan, Balikpapan lalu pindah pesawat menuju ke Bandara Juwata, Tarakan. Jakarta-Balikpapan ditempuh sekitar 2 jam, sedangkan Balikpapan-Tarakan hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam. Dari Tarakan, bisa langsung ke pelabuhan (saya lupa namanya, hehe) menuju Sei Nyamuk di Sebatik dengan speed boat. Sei dalam bahasa Indonesia berarti "sungai".
Dua setengah jam kemudian, sampailah di dermaga Sei Nyamuk. Suasana cukup riuh menyambut speed boat saya dan teman2 yang baru merapat di dermaga. Di sana sudah terdapat pangkalan ojek dan memang hanya motor yang bisa digunakan untuk keluar dermaga Sei Nyamuk karena bangunan dermaga dan jalan yang hanya dibangun dengan kayu sampai ke daratan yang sesungguhnya a.k.a tanah (sayangnya saya ga bisa mengabadikan bentuk dermaga. Dua tangan selalu pegangan ketika naik ojek, takut jatoh karena jalannya dug durudug dug..bergetar di atas papan2 kayu). Sesampainya di tanah Sebatik yang daerahnya di sebut Sei Pancang, mulailah kami bergerilya. B-) *Pasangkacamatahitam
Tentang Sebatik
Konon, katanya sebatik itu pemberian dari Tim Ekspedisi Belanda yang pada saat kekuasaannya menemukan seekor ular besar sejenis Sanca yang kemudian disebut oleh masyarakat ular Sawa Batik. Pada saat itu Belanda menyebutnya Sebettik dan kemudian berubah nama menjadi Sebatik.
Sebatik dihuni oleh sekitar 34.218 jiwa dari berbagai etnis yang mendiaminya, diantaranya: Tidung, Banjar, Dayak, Jawa, Timor, Tionghoa, dan etnis mayoritas serta terbanyak di Sebatik adalah Bugis. Jadi, ga heran banget deh kalau jalan2 di sekitar sebatik yang didengar adalah bahasa Bugis. Dari Bugis Wajo, Bone, Rappang, Sidrap, hingga bahasa Bugis dengan bahasa yang paling berbeda dari bugis lainnya, yaitu bugis enrekang. Rumah-rumah penduduk di sana juga khas banget, rumah panggung. Pertama kali lihat model bangunan rumah di sana, langsung inget serial kartun anak-anak Upin dan Ipin.
Keramahan penduduk di sana juga ga diragukan, berawal dari pertemuan dengan salah satu anggota Koranmil Sebatik, yang ternyata jauh2 ke kaltim ketemu sama orang Jawa juga. Ga lama, komandannya datang. Pak Pasaribu..seorang batak yang gaul bangeeeettttt #lebay.. Bisa diajak becanda, bisa diajak berantem. Subhanallah..pertemuan dimudahkan dan izin untuk melakukan tugas dikantongi walaupun tidak mendapat pendampingan dari TNI untuk melakukan tugas ke wilayah perbatasan dengan alasan tidak adanya koordinasi sebelumnya --> kalau yang ini udah super duper biasa, masalah birokrasi dan administrasi yang harus sesuai prosedur. Karena pada dasarnya militer harus disiplin dan taat peraturan ya jadilah tugas dilakukan tanpa pendampingan TNI, Bismillah aja..moga2 ga salah melangkah trus ditangkep petugas perbatasan negara tetangga atau dijadiin TKW di sana :p
Singkatnya,setiap kali berkunjung ke rumah kepala desa, ketua RT, dan penduduk2 setempat selalu tidak pernah absen dari kata 'makan dan minum'. Mungkin awalnya mereka ragu dan sedikit membatasi diri karena didatangi orang asing, tapi pada akhirnya ga nyangka sama sekali malah dikasih makan siang, makan malem, pisang, sampai ditawari untuk bermalam di rumahnya. But the most pleasure thing is dikasih pinjem bantal. hehehee...walaupun seharian ambil data masih bisa rebahan plus tidur2an, gan. Mereka cukup paham melihat wajah kami semringah ketika mereka ngeluarin bantal (ga minta looh...). Allah Memang Baik..terbukti dari setiap wajah-wajah baru yang saya temui. Di situlah saya merasakan kasih sayangNYA yang tak terbatas :) Jadi kangen mereka..Pak Kades, Pak Syamsir, Ical, Ina..dan mobil kijang merah butut yang sudah mengantar saya kemana-mana.
Tapi sayangnya ga semua cerita yang didapat menyenangkan. Hal yang memprihatinkan adalah ketika jalan-jalan (dari lokasi ke lokasi) dengan mobil butut merah itu, hampir kehabisan bensin. Berputar-putar dari satu penjual bensin ke penjual yang lain yang juga kehabisan stock bensin. Tapi alhamdulillah lagi, Allah memang baik. Dapat juga satu penjual yang masih punya stock bensin cukup untuk perjalanan kami seharian. Ngobrol-ngobrol, cerita-cerita sama pak sopir yang mengantar kami, ternyata saya baru tahu kalau sudah 10 hari itu mereka tidak mendapat kiriman minyak tanah/bensin dari pemerintah. Masyarakat malah mendapatkannya dari Tawaw, Malaysia. Danggg!! Fakta I. Coba bayangin kalau ga ada bensin dari Tawaw, ga akan ada itu kendaraan di Sebatik yang lalu lalang. Jalanan sepiii kaya hari nyepi.
Perjalanan berlanjut. Kali ini menyusuri jalan ke Kecamatan Bambangan. Fakta ke-2, akses jalan yang parah, tanah liat dan kalau hujan dijamin ga bisa lewat. Licin. Waktu itu saya termasuk dari pemakai jalan yang bener2 jalan. Kendaraan kami terperosok ke dalam tanah yang lumayan dalam. Alhasil, turun dari mobil, gulung celana, lepas sepatu, dan nyeker. hehe...kali ini ga sedih-sedih banget sih. Karena menurut saya, itu pengalaman yang tidak semua orang bisa dapetin. Jarang kan, ada mobil tapi malah nyeker sampai pada kondisi jalan yang tanahnya sudah agak keras dan mengering. Ga hitung lagi deh berapa meter jalan kaki sambil nyekernya.
Tidak hanya bensin dan akses jalan. Fakta ketiga yang saya temui adalah ketika beli duren bersama teman-teman. Salah seorang teman bertanya, berapa harga duren itu dan penjual menjawab dengan satuan uang Ringgit. What?!! apakah saya sudah salah melangkah dan sampai di Malaysia sekarang? itu pikiran saya sambil ngeliat kaki, udah nginjek atau lewatin tapal batas belum ya tadi..Fakta itu ternyata tidak hanya sekali saya temui, kebanyakan setiap transaksi jual beli saya malah sering menemui penjual yang meyatakan harga barang dagangannya dengan satuan Ringgit. Mereka cenderung menyebut Ringgit terlebih dahulu lalu menyebutkannya dalam bentuk Rupiah. Kenapa??? saya hanya bisa mengurainya dengan jawaban, bahwa kegiatan jual beli untuk memperoleh barang yang mereka butuhkan cenderung mereka dapatkan dari Tawaw. Mereka mengakui bahwa mereka lebih sering ke Tawaw daripada ke Nunukan atau Tarakan. Di samping barang yang lebih mudah diperoleh, di Tawaw mereka bisa mendapatkan harga yang masih bisa dijangkau. Kalau sudah begini, lalu mau bilang apa?? #mulai geregetan
Fakta ke-4 yang lebih serius. TAPAL BATAS. Menurut pengakuan salah seorang ketua RT di Aji Kuning, Sebatik. Patok di perbatasan semakin lama semakin mengurangi wilayah NKRI. Entah pindah sendiri atau ada yang pindahin. Ketika saya lihat langsung, dimana posisi patok itu, kaget juga. Lah wong patoknya cuma sebalok kayu dan tiang bendera dari bambu yang tertancap di tanah. Itu patok?? Itu batas NEGARA?? ya ampuuunnn....bagaimana tidak bergeser? kenapa tidak dibuat tembok besar tinggi yang sulit dipindahkan. Kenapa hanya sebalok kayu yang dengan alasan karena banjir, hujan, atau kehendak alam yang bisa memindahkan patok itu? #eh, jadi emosi. hehehe...
Sekian dulu ya, kapan-kapan dilanjut ceritanya..
Wassalam..
0 comments:
Post a Comment