Semua seperti bergumul, tidak ingin tenang. Berlomba mencari posisi teratas untuk membuat diri sadar apa yg sebenarnya dirasakan. Bukan hanya syukur karena yakin banyak kasih yang Allah titipkan melalui orang-orang di sekitar, tetapi sedih, takut, marah, kecewa, dan sesal. Gelisah sudah pekat. Hampir menguat ketika malam semakin menakutkan. Semakin terjebak dalam kondisi tanpa kesimpulan. Mencoba keluar tapi kaki seperti mati tak bisa berdiri. Melangkah tapi takut tak bisa menahan diri, tidak melangkah tidak akan bisa mengubah kondisi. Sekali lagi, bosan dengan segala kecemasan di antara harapan esok yang tidak pernah pasti…dan hanya bisa pasrah pada Pemilik Semua Hati…

Ketika doa yang ku panjatkan terlalu berlebihan
Padahal Engkau selalu memberi lebih dari apa yang sebenarnya kubutuhkan
Seharusnya aku malu..
Ketika setiap urusan dirasakan berat untuk dihadapi
Padahal Engkau selalu memberi jalan keluar yang pasti terbaik untuk dilewati
Seharusnya aku malu..
Ketika berpikir bahwa diri ini hanya sendiri
Padahal Engkau selalu menjaga bersama malaikatMU yang setia tanpa henti
Seharusnya aku malu..
Ketika sering mengurangi waktu bersamaMU
Padahal Engkau tak pernah mengurangi nikmat setiap hari dalam hidupku
Seharusnya aku malu..
Ketika berulang kali melakukan kesalahan
Tapi Engkau selalu memaafkan dengan penuh kelembutan..
Wahai Rabbi ,Tuhanku Yang Baik Hati..
Jadikanlah, rasa malu yang sebenar-benarnya dan senantiasa ada
Malu yang menjauhkan diri ini dari kesalahan yang hina
Malu yang membuat diri ini lebih dekat pada Engkau yang Esa
Malu yang membuat diri ini selalu bersyukur atas segala nikmatMU yang indah
dan malu yang membuat hati ini malu jika melupakanMU walau sedetik saja..

Pasti belum sering mendengar kata-kata itu. Saya juga baru dengar tadi siang, ketika kepala bidang memberikan pembekalan. Sebelumnya mau curhat dulu ya..hehe :D
Saya pasti sebel kalau bertemu orang yang bertanya tentang penjurusan saya kuliah, lalu mereka menanggapinya dengan "Loh, emang ga bisa bahasa Indonesia ya?"...seolah-olah mereka tidak respect dengan bahasa yang mereka gunakan sendiri. Aneh, rasanya...tapi hal ini saya tanggapi karena mungkin mereka memang tidak mengenal bahasa Indonesia. Apalagi perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat mempengaruhi masyarakat dalam berbahasa. Orang-orang sekarang ini lebih senang menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Itu pasti karena gengsi. Yang menggunakan bahasa asing merasa dirinya lebih hebat daripada menggunakan bahasa milik sendiri, bahasa Indonesia. Inilah yang dikatakan mental inlandeer.

Mental inlandeer sepertinya memang sudah melekat dalam masyarakat Indonesia. Membeli dan memakai produk import lebih bangga, padahal yang mereka beli di luar negeri itu bisa jadi produk Indonesia yang di eksport. Kalau hal itu pasti sudah banyak yang tahu, tapi kenyataannya masyarakat masih juga begitu. Kenapa?? Masyarakat kita lebih bangga dengan sesuatu yang berhubungan dengan bangsa asing. "Seperti udah warisan turun temurun" kata kabid. Mungkin penyebabnya adalah kembali lagi ke sejarah. Sekian ratus tahun kita dijajah bangsa Belanda. Zaman Belanda, sekolah dibedakan, antara pribumi dan Belanda atau orang-orang keturunan ningrat. Yang bersekolah di sekolah Belanda tentunya lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang bersekolah di sekolah pribumi. Konon, inilah yang menyebabkan bangsa kita lebih gengsi menggunakan segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsa asing hingga kini.

Kondisi itu sulit diubah karena diantara masyarakat kita juga masih banyak menganut feodalisme. Sistem sosial yg mengagung-agungkan jabatan atau pangkat. Mental inlandeer ternyata bisa turun temurun seperti warisan yang belum lekang oleh waktu. Mental inlandeer juga berdampak pada bahasa. Padahal salah satu warisan negara yang masih murni dan belum "diacak-acak" oleh budaya luar adalah bahasa. Seharusnya kita bangga memiliki bahasa yang lahir dari sejarah bangsa sendiri. Bayangkan, jika tidak ada bahasa Indonesia, pluralisme di Indonesia bukan tidak mungkin terpecah belah. Tapi, dengan adanya bahasa Indonesia, bisa mempersatukan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai suku yang ada di Indonesia.

Sebenarnya tidak ada cela juga berbahasa Indonesia. Lihat deh, negara-negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Filiphina. Mereka tidak punya bahasa nasional. Dengan adanya etnis-etnis dengan bahasa yang berbeda-beda, mereka tidak bisa mengambil kebijakan untuk mengambil salah satu bahasa yang ada di negara itu menjadi bahasa nasional karena berdampak pada kondisi politik dalam negeri. Malaysia, bahasa melayu masih berkumandang di sana tapi keberadaannya masih kalah dengan bahasa Inggris sehingga tidak bisa dikatakan bahasa melayu menjadi bahasa nasional karena penggunaannya pun tidak seluas penggunaan bahasa Inggris. Gimana mereka ga iri pada Indonesia? hehe..Satu lagi, Filiphina, sama juga dengan malaysia..bahasa asli mereka bahasa tagalog, tapi kenyataan di lapangan bahasa Inggris yang lebih sering digunakan. Padahal, bahasa itu mencerminkan identitas bangsa. Nah, kalau bahasa nasional aja belum diputuskan keberadaannya, bagaimana dengan identitas bangsanya?...Ayolah, bersikap positif terhadap bahasa sendiri. Bahasa asing perlu tapi tidak menomorduakan bahasa Indonesia. Apalagi sekarang sudah ada UUD No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Kalau presiden aja berpidato di luar negeri menggunakan bahasa Indonesia, apalagi alasan kita untuk tidak berbahasa Indonesia..

Bukan maksudnya nakut2in, tapi kalo abis baca tulisan ini jadi takut, ya apalagi yang mimpi..hehehe..Mimpi yang ga pernah bisa dilupain, malahan langsung ditulis biar jadi pengingat supaya rajin solat. Seolah-olah membuat saya benar-benar sadar adanya kehidupan yang sebenarnya. Akhirat…alam abadi yang kekal. Disanalah tujuan kita yang sebenarnya. Hidup penuh nikmat tak terhingga atau tersiksa. Mimpi itu adalah hari kiamat..*nailbiting*

Setiap orang keluar dari rumah mereka yang dianggap sebagai istana

Burung2 yg terbang damai setiap harinya berhamburan mencari sarangnya tak tentu arah

Manusia dikagetkan dengan sebuah cahaya surya yang muncul dari ufuk barat

Langit mendung hitam gelap gulita bersama gemuruh guntur yang menggelegar dunia seolah malaikat yang membunyikan sangsakala

Angin berputar-putar menyapu keindahan alam, air bergejolak mengalir bak ingin membersihkan bumi dan seisinya

Gedung2 tinggi jatuh tenggelam ke dalam perut bumi digantikan gedung pengadilan akhirat yang mencekam dengan segala hukuman yang akan dijatuhkan

Dimana lagi manusia berteduh…? siapa yang bisa keluar dari kuasa-Nya? siapa yang selamat di hari kiamat? Tak ada lagi tempat sembunyi, tak ada tempat berteduh lagi dan semua manusia yang DIA cipta hanya bisa menyerahkan diri. Hanya Illahi Robbi yang bisa menyelamatkan setiap manusia…ayo, solat..sebelum hari itu tiba..

Copyright 2010 Rehand's Blog
Lunax Free Premium Blogger™ template by Introblogger