Tulisan ini re-post dari teman. Selamat membaca, semoga kata hati dan perasaannya terwakilkan *bagi perempuan*..termasuk gw, wkwkw..
"Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah tokoh romantis yang dapat melukis seperti Jack Dawson dalam Titanic, maka itu kami tidak pernah minta kalian melukis wajah kami dengan indah, paling tidak saat kami minta kalian menggambar wajah kami , gambarlah, meskipun hasil akhirnya akan seperti Jayko adik perempuan Giant dalam film Doraemon, tapi kami tahu, kalian berusah
Mencontek dari blog adik tentang sebuah link. *budaya mencontek ternyata belum bisa dilepas* hehehehehe... Infonya tentang What's Your Name's Hidden Meaning?
Jadi ingin tahu dan ikut-ikutan mencari tahu apa arti dibalik sebuah nama...ini hanya buatan manusia dan benar atau tidaknya ya hanya diri sendiri yang bisa mengoreksinya...setelah dicoba, ternyata ini toh makna dibalik nama Retno Handayani.. :D
Awalnya hanya libur sehari, tapi karena liburnya tepat di hari kamis dan hari jumat masuk kerja jadi niatan untuk berlibur diurungkan, malah berniat untuk hibernasi. Memang syndrome harpitnas sangat sulit untuk dielakkan. Tiba-tiba kakak nge-ym dan ngajak liburan ke rumah mertuany
a. Akhirnya, berangkatlah rabu malam tepat pukul 00.00 WIB, *kaya cinderella ya..* bersama keluarga kecil kakak dan assistennya menuju Kebumen Utara. Perjalanan yang biasa ditempuh selama kurang lebih 6-8 jam terulur menjadi 15 jam. Lama ya? karena kemacetan dari Cikampek sampai
Subang, ditambah lagi kakak ipar lupa jalan yang harus dilewati setelah keluar tol. Hadeh!! Yah, anggap saja..jalan-jalan..*memang jalan-jalan* :D
Walaupun hampir setiap tahun ikut mudik dengan melewati jalan yang sama tapi ternyata tetap tidak ingat-ingat. hehe...
Setelah melewati tol, membelah sawah, naik turun bukit, tanya penjaga gerbang tol, tanya tukang becak, tanya mas-mas yang lagi pacaran sama cewenya di jalan, tanya petugas DLLAJR daerah setempat,
Tadinya, sudah berniat untuk tidur, badan sudah direbahkan di atas kasur, tapi tiba-tiba teringat seorang teman. Akhirnya, menelepon dia dulu sampai benar-benar tidak sanggup untuk mengobrol lagi. Ternyata nada sambungnya sibuk. Ah, tidak seperti biasanya. Malam minggu ini, aku telepon dia tapi nada sambungnya sibuk. Karena keinginan teleponnya kuat, jadi ya coba terus telepon dan diangkat juga. Setelah mengucap salam, aku langsung menanyakannya siapa yang baru saja telepon dia. Hehehe…ingin tahu privasi orang saja, ya..walaupun sebenarnya aku sudah menduga pasti “teman”nya yang bisa dikatakan bukan sekadar teman. Duh, lama-lama jadi cemburu. Langsung berpikir bahwa tak lama lagi sepertinya dia akan naik pelaminan. Senang tapi kok ada perasaan tidak rela, ya..mungkin karena sudah merasa dekat dengannya. Beberapa waktu belakangan ini, setiap janjian ketemu sama dia pasti ada saja telepon dari seseorang. Benar-benar bukan kondisi yang biasa. Dia tidak pernah begitu dan memperlakukan seseorang yang meneleponnya dengan suara pelan. Tapi beberapa waktu ini, berbeda. Aku pun merasa dia sudah semakin dekat dengan lelaki itu. Lelaki yang dalam ceritanya dulu, sudah sering berkorban apa saja untuk dia. Lelaki yang sudah dia perlakukan secara tidak adil, tapi tetap memperlakukannya baik. Kurasa mereka memang berjodoh dan semoga Allah menjadikan mereka semakin baik dengan jalanNYA. Amin..
Cerita lain…
Dalam perjalanan pulang dari kantor, langit sudah gelap. Seperti biasa, aku membonceng salah satu teman kantor dengan motornya yang besar seperti orangnya. ups..hehe. Dengan agak khawatir dan perasaan was-was, aku berdoa agar hujan tidak turun sebelum kami sampai di rumah masing-masing. Tapi memang Allah berkehendak lain. Kami tidak bisa mengejar waktu dan menghindari hujan. Dalam hitungan menit setelah meninggalkan kantor, hujan turun dengan cukup deras. Akhirnya, kami memutuskan berteduh di bawah jembatan terminal bus transjak bersama dengan pengendara motor lain. Sambil menunggu hujan reda, aku dan temanku ngobrol santai sambil becanda. Tiba-tiba seorang pria separuh baya yang mengendarai sepeda mendekati kami. Tanpa alih-alih, dia berkata pada temanku. "Hujannya bisa lama ya, mas..". Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Temanku menanggapi. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka. Tapi kemudian, si bapak itu bercerita bahwa, dirinya mengendarai sepeda kecil berwarna pink yang dia parkir tepat di hadapan kami. Sepeda itu baru beliau beli dengan harga Rp 150 ribu di Pasar Senen untuk putrinya yang baru keluar dari rumah sakit. Beberapa hari lalu putrinya sakit dan harus dirawat. Keinginan putrinya untuk mempunyai sepeda belum ia dapatkan sehingga
Ungkap semua rahasia diriku
Teringat jelas di benakku
Indah kisah yang tlah lalu
Cinta mohon padamu satu
Jangan ucap kata itu
Berat tuk rengkuh yang kumau
Kita beda wahai sayangku
Biarkan cinta yang dulu kan tetap indah
Dan biar waktukan sembuhkan luka itu
Jangan teruskan kasihku
Walau kita satu
Mungkin kita tercipta untuk tak satu
Oh biar cintaku
Ku dengan jalanku
Lihat ceria sisi dunia yang terbentang untuk kita
Anggap sajalah aku persinggahan untukmu
Temani hari-hari yang kini tlah menyemu...
Kata Ibu, "Tenang aja, dek..kamu harus bangun..!!"
Padahal, sebelum ibu bilang itu aku ndak tidur, malah lagi nonton tv sambil ngobrol-ngobrol sama ibu. Memang terkadang ibu suka bernasihat, mengeluarkan kata-kata yang agak filosofis dan bermakna implisit, tidak mudah dan tidak langsung bisa dicerna kalau sebelumnya tidak ada topik pembicaraan apa-apa. Tapi aku paham maksud ibu. Itulah hebatnya seorang ibu. Walaupun sang anak yang sedang gundah tidak bercerita, tapi seorang ibu bisa memahami apa yang sedang dialami anaknya. Bahkan, bisa jadi ibu sudah mengetahui apa yang dirasakan anaknya jauh sebelum anaknya menyadari apa yang dia rasakan sendiri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)