Dalam perjalanan pulang dari kantor, langit sudah gelap. Seperti biasa, aku membonceng salah satu teman kantor dengan motornya yang besar seperti orangnya. ups..hehe. Dengan agak khawatir dan perasaan was-was, aku berdoa agar hujan tidak turun sebelum kami sampai di rumah masing-masing. Tapi memang Allah berkehendak lain. Kami tidak bisa mengejar waktu dan menghindari hujan. Dalam hitungan menit setelah meninggalkan kantor, hujan turun dengan cukup deras. Akhirnya, kami memutuskan berteduh di bawah jembatan terminal bus transjak bersama dengan pengendara motor lain. Sambil menunggu hujan reda, aku dan temanku ngobrol santai sambil becanda. Tiba-tiba seorang pria separuh baya yang mengendarai sepeda mendekati kami. Tanpa alih-alih, dia berkata pada temanku. "Hujannya bisa lama ya, mas..". Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Temanku menanggapi. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka. Tapi kemudian, si bapak itu bercerita bahwa, dirinya mengendarai sepeda kecil berwarna pink yang dia parkir tepat di hadapan kami. Sepeda itu baru beliau beli dengan harga Rp 150 ribu di Pasar Senen untuk putrinya yang baru keluar dari rumah sakit. Beberapa hari lalu putrinya sakit dan harus dirawat. Keinginan putrinya untuk mempunyai sepeda belum ia dapatkan sehingga mungkin itu yang membuatnya sakit. Walaupun, ekonominya begitu sulit, si bapak membelikannya sepeda dan rela menempuh perjalanan yang tidak dekat dengan bersepeda sambil hujan-hujanan dengan harapan agar si anak tidak sakit lagi.
Ya Allah...jadi ingat bapak yang selalu merawatku di rumah sakit dengan sabar. Teringat bagaimana beliau mencoba memenuhi segala keinginan untuk membuatku bahagia dan senang dengan seluruh kemampuannya berusaha. Tidak hanya aku, kakakku, adikku, dan pastinya ibuku. Bapak dengan semangatnya yang tidak pernah padam dimakan usia, bapak dengan kesabarannya yang luar biasa, mengejar waktu, melawan terik matahari, dan menembus hujan demi kebahagiaan keluarga yang dicintainya. Bapak mungkin lupa dengan kondisinya sendiri tapi bapak tidak pernah lupa dengan kondisi keluarganya yang selalu ingin dibahagiakannya. Bapak mungkin lupa dengan kebutuhan dirinya hingga sering beliau korbankan tapi bapak tidak pernah lupa dengan kebutuhan anak-anaknya. Bekerja keras, tak peduli berapa tetes keringat yang sudah dikeluarkan, tak peduli berapa banyak energi yang dihabiskan, bapak tetap melaju meneruskan "perjuangannya" demi keluarga yang dicintai. Subhanallah...Betapa hebatnya seorang bapak.
Pada suatu kisah, Rasulullah saw bersalaman dengan seorang sahabat, Saad Ibnu Muadz. Rasulullah saw melihat tangan sahabat itu sangat hitam karena bekerja keras di bawah terik matahari. Rasulullah saw bertanya kenapa tangannya hitam?
Saad menjawab:
“Tanganku seperti ini karena aku bekerja mencangkul di kebun kurmaku untuk menghidupi keluargaku.”
mendengar jawaban demikian, Rasulullah SAW mencium tangan sahabat itu sambil berkata:
“Inilah kedua tangan yang disukai Allah.”
Ya Allah, berapa banyak keringat yang bapak keluarkan untukku tapi aku hanya bisa keluarkan air mataku untuk meminta sesuatu padanya. ya Allah, betapa sabarnya bapak merawat dan menghidupiku tapi sebentar saja aku tak bisa bersabar menghadapi keinginannya yang sekadar ingin diperhatikan. Ya Allah, betapa tangguhnya bapak menghadapi segala rintangan, hujan, panas, bahkan mungkin yang berhadapan dengan maut sekali pun dalam bekerja tapi aku hanya bisa mengeluh saat hanya berdiri di bus berjam-jam dalam perjalanan pulang dari kantor. Ya Allah, maafkanlah aku..sayangilah kedua orang tuaku, sebagaimana mereka telah menyayangiku sejak kecil..amin!
0 comments:
Post a Comment