Lagi bosan, menunggu waktunya pulang. Ga tau kenapa hari ini ga terlalu semangat, mungkin karena suhu tubuh dan tenggorokan mulai menunjukkan gejala2 flu. Pengen pulang, tapi nanti dulu. Kangen sama "partner in crime" yang baru hari ini cuti. Huaaahh, ga jelas banget mau ngapain. Lihat air minum di gelas udah abis, mau bangun, bediri, dan melangkah rasanya lelah padahal untuk sekedar ambil minum jaraknya cuma berapa langkah. Ada kastanyel, oleh-oleh partner sebelum cuti, tp mulut kaya malas mengunyah. Ada kopi di laci tapi ga ngantuk jadi disimpan buat nanti-nanti. Ada apalagi ya, teks book bahasa Inggris..walah makin males lagi walaupun hanya sekedar baca. Buka-buka foto di file, buka-buka jejaring sosial, semuanya membosankan :(
Karena ga ada yang menarik, tangan terus2an gerakin kursor walaupun sebenarnya saya tahu kalau gerak motorik dan pikiran ini ga sinkron. Liat profil teman dan fotonya ketika di bali. Tiba-tiba, jrengg!! BALI!! haahh..berapa kali hampir ke sana, tapi ga pernah jadi.. :(
Hahaha..
Datang ke kantor masuk ruangan, taruh tas..buka laptop, buka dokumen tugas-tugas..kemudian sudah mulai obrolan bersama teman. Sebenarnya sih bukan obrolan, tp hanya sekedar memanggil untuk membaginya sarapan yang dibawa dari rumah. hehe..alesan aja.
Trus teman datang, ngeliat tas di atas meja lalu berkomentar.."Hiihiy..eno tasnya, cie ciee.." Bingung, emang ada yang salah ya, pikirku. Teman berkata lagi, "Biasanya tas ransel, tas ranselnya ke mana, no?" Oh..kayanya dia heran sm tas yg kubawa hari ini..Memang hari ini sudah diniatkan tuk tidak menggunakan tas ransel karena kemarin sore rasanya sangat capek bawa tas ransel berisi laptop dan pulang naik bus dalam keadaan berdiri. Akhirnya, malam hari berpikir untuk mengistirahatkan sementara tas ranselku..padahal yg capek orgnya, kenapa yg rehat tasnya ya.. :D
Lanjuuut..
si teman yang kusapa mba itu bilang lagi, "tumben bgt no..tasnya cewek"
"iya, mba..kemaren kan tas ranselnya kebesaran, trus pulang di bus berdiri, pegel-pegel.." jawabku.
Ga lama ribut2 berdua, seorang senior yg kusapa ibu datang..
"Ada apa sih, ko rame bgt.."(mungkin maksudnya seru banget)
"Ini, bu..si eno bawa tasnya tas cewe..biasanya kan macho, bawa tas ransel", kata temen.
"Hahaha.." aku, cuma bisa ketawa. Merasa banget diledekin..
"Mana coba.."(sambil ngelirik dan angkat2 tas yg kubawa, si ibu berpose mencobanya)dan bilang lagi "oh iya, ya..Nah, GITU DONK SESEKALI JADI PEREMPUAN"
What??!! emang selama ini, saya perempuan jadi-jadian, bu??...
Sebuah mimpi tentangnya beberapa hari yang lalu..
IBU..
Malam kemarin aku bermimpi tentangmu..
Aku sedang tertidur dikasurnya yang tak pernah ia protes jika selimut yg biasa menyelimuti ibu kupakai
Ibu beranjak pergi ke mesjid untuk subuh berjamaah dan meninggalkan aku yang sedang tertidur setengah sadar karena sakitku..
Ibu bilang, "Ibu ke mesjid dulu, ya dek.."
dengan lirih ku jawab, "iya.."
dan aku pun tertidur lagi..
dari: Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya:
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Teringat kembali lagu ini karena diputar ketika senam pagi tadi.
Ternyata liriknya menggugah hati, disamping musiknya yang melow seperti suasana batin malam ini.. *halah :D
Membangkitkan semangat jiwa yang lagi kesepian karena sedang kembali menjadi anak tunggal, sekaligus menemani diri ini yang lagi berusaha menyelesaikan tugas kantor bertumpuk-tumpuk yang sengaja dibawa pulang ke rumah. Pfiuhhh... *kebanyakan konjungsi "yang" ya?*
Seperti hari libur biasanya, setelah subuhan tidur lagi di kamar ibu *pindah kamar*. Entah kenapa setiap hari libur, bangun subuh trus pengennya ngelanjutin tidur di kamar ibu. Hawanya beda dan yang pasti biar ga ditinggal begitu aja kalau ibu dan bapak pergi pagi-pagi tanpa bilang2. Hehe..kejadian yg sering dialami, bangun-bangun ibu dan bapak udah ga ada aja trus rumah dikunci dari luar. *kaya dikrangkeng* Diakui, memang agak malas saya, bangun pagi menjadi hal yang terlalu istimewa ketika libur kerja. :D
Tapi ada yg berbeda pagi ini. Pukul 8.00 WIB, gw bangun karena telepon seluler bergetar. Walaupun sudah di-silent tapi ternyata getarannya mampu mengganggu gendang telinga juga. Dari temen kampus.
Tulisan ini re-post dari teman. Selamat membaca, semoga kata hati dan perasaannya terwakilkan *bagi perempuan*..termasuk gw, wkwkw..
"Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah tokoh romantis yang dapat melukis seperti Jack Dawson dalam Titanic, maka itu kami tidak pernah minta kalian melukis wajah kami dengan indah, paling tidak saat kami minta kalian menggambar wajah kami , gambarlah, meskipun hasil akhirnya akan seperti Jayko adik perempuan Giant dalam film Doraemon, tapi kami tahu, kalian berusah
Mencontek dari blog adik tentang sebuah link. *budaya mencontek ternyata belum bisa dilepas* hehehehehe... Infonya tentang What's Your Name's Hidden Meaning?
Jadi ingin tahu dan ikut-ikutan mencari tahu apa arti dibalik sebuah nama...ini hanya buatan manusia dan benar atau tidaknya ya hanya diri sendiri yang bisa mengoreksinya...setelah dicoba, ternyata ini toh makna dibalik nama Retno Handayani.. :D
Awalnya hanya libur sehari, tapi karena liburnya tepat di hari kamis dan hari jumat masuk kerja jadi niatan untuk berlibur diurungkan, malah berniat untuk hibernasi. Memang syndrome harpitnas sangat sulit untuk dielakkan. Tiba-tiba kakak nge-ym dan ngajak liburan ke rumah mertuany
a. Akhirnya, berangkatlah rabu malam tepat pukul 00.00 WIB, *kaya cinderella ya..* bersama keluarga kecil kakak dan assistennya menuju Kebumen Utara. Perjalanan yang biasa ditempuh selama kurang lebih 6-8 jam terulur menjadi 15 jam. Lama ya? karena kemacetan dari Cikampek sampai
Subang, ditambah lagi kakak ipar lupa jalan yang harus dilewati setelah keluar tol. Hadeh!! Yah, anggap saja..jalan-jalan..*memang jalan-jalan* :D
Walaupun hampir setiap tahun ikut mudik dengan melewati jalan yang sama tapi ternyata tetap tidak ingat-ingat. hehe...
Setelah melewati tol, membelah sawah, naik turun bukit, tanya penjaga gerbang tol, tanya tukang becak, tanya mas-mas yang lagi pacaran sama cewenya di jalan, tanya petugas DLLAJR daerah setempat,
Tadinya, sudah berniat untuk tidur, badan sudah direbahkan di atas kasur, tapi tiba-tiba teringat seorang teman. Akhirnya, menelepon dia dulu sampai benar-benar tidak sanggup untuk mengobrol lagi. Ternyata nada sambungnya sibuk. Ah, tidak seperti biasanya. Malam minggu ini, aku telepon dia tapi nada sambungnya sibuk. Karena keinginan teleponnya kuat, jadi ya coba terus telepon dan diangkat juga. Setelah mengucap salam, aku langsung menanyakannya siapa yang baru saja telepon dia. Hehehe…ingin tahu privasi orang saja, ya..walaupun sebenarnya aku sudah menduga pasti “teman”nya yang bisa dikatakan bukan sekadar teman. Duh, lama-lama jadi cemburu. Langsung berpikir bahwa tak lama lagi sepertinya dia akan naik pelaminan. Senang tapi kok ada perasaan tidak rela, ya..mungkin karena sudah merasa dekat dengannya. Beberapa waktu belakangan ini, setiap janjian ketemu sama dia pasti ada saja telepon dari seseorang. Benar-benar bukan kondisi yang biasa. Dia tidak pernah begitu dan memperlakukan seseorang yang meneleponnya dengan suara pelan. Tapi beberapa waktu ini, berbeda. Aku pun merasa dia sudah semakin dekat dengan lelaki itu. Lelaki yang dalam ceritanya dulu, sudah sering berkorban apa saja untuk dia. Lelaki yang sudah dia perlakukan secara tidak adil, tapi tetap memperlakukannya baik. Kurasa mereka memang berjodoh dan semoga Allah menjadikan mereka semakin baik dengan jalanNYA. Amin..
Cerita lain…
Dalam perjalanan pulang dari kantor, langit sudah gelap. Seperti biasa, aku membonceng salah satu teman kantor dengan motornya yang besar seperti orangnya. ups..hehe. Dengan agak khawatir dan perasaan was-was, aku berdoa agar hujan tidak turun sebelum kami sampai di rumah masing-masing. Tapi memang Allah berkehendak lain. Kami tidak bisa mengejar waktu dan menghindari hujan. Dalam hitungan menit setelah meninggalkan kantor, hujan turun dengan cukup deras. Akhirnya, kami memutuskan berteduh di bawah jembatan terminal bus transjak bersama dengan pengendara motor lain. Sambil menunggu hujan reda, aku dan temanku ngobrol santai sambil becanda. Tiba-tiba seorang pria separuh baya yang mengendarai sepeda mendekati kami. Tanpa alih-alih, dia berkata pada temanku. "Hujannya bisa lama ya, mas..". Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Temanku menanggapi. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka. Tapi kemudian, si bapak itu bercerita bahwa, dirinya mengendarai sepeda kecil berwarna pink yang dia parkir tepat di hadapan kami. Sepeda itu baru beliau beli dengan harga Rp 150 ribu di Pasar Senen untuk putrinya yang baru keluar dari rumah sakit. Beberapa hari lalu putrinya sakit dan harus dirawat. Keinginan putrinya untuk mempunyai sepeda belum ia dapatkan sehingga
Ungkap semua rahasia diriku
Teringat jelas di benakku
Indah kisah yang tlah lalu
Cinta mohon padamu satu
Jangan ucap kata itu
Berat tuk rengkuh yang kumau
Kita beda wahai sayangku
Biarkan cinta yang dulu kan tetap indah
Dan biar waktukan sembuhkan luka itu
Jangan teruskan kasihku
Walau kita satu
Mungkin kita tercipta untuk tak satu
Oh biar cintaku
Ku dengan jalanku
Lihat ceria sisi dunia yang terbentang untuk kita
Anggap sajalah aku persinggahan untukmu
Temani hari-hari yang kini tlah menyemu...
Kata Ibu, "Tenang aja, dek..kamu harus bangun..!!"
Padahal, sebelum ibu bilang itu aku ndak tidur, malah lagi nonton tv sambil ngobrol-ngobrol sama ibu. Memang terkadang ibu suka bernasihat, mengeluarkan kata-kata yang agak filosofis dan bermakna implisit, tidak mudah dan tidak langsung bisa dicerna kalau sebelumnya tidak ada topik pembicaraan apa-apa. Tapi aku paham maksud ibu. Itulah hebatnya seorang ibu. Walaupun sang anak yang sedang gundah tidak bercerita, tapi seorang ibu bisa memahami apa yang sedang dialami anaknya. Bahkan, bisa jadi ibu sudah mengetahui apa yang dirasakan anaknya jauh sebelum anaknya menyadari apa yang dia rasakan sendiri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)
Semua seperti bergumul, tidak ingin tenang. Berlomba mencari posisi teratas untuk membuat diri sadar apa yg sebenarnya dirasakan. Bukan hanya syukur karena yakin banyak kasih yang Allah titipkan melalui orang-orang di sekitar, tetapi sedih, takut, marah, kecewa, dan sesal. Gelisah sudah pekat. Hampir menguat ketika malam semakin menakutkan. Semakin terjebak dalam kondisi tanpa kesimpulan. Mencoba keluar tapi kaki seperti mati tak bisa berdiri. Melangkah tapi takut tak bisa menahan diri, tidak melangkah tidak akan bisa mengubah kondisi. Sekali lagi, bosan dengan segala kecemasan di antara harapan esok yang tidak pernah pasti…dan hanya bisa pasrah pada Pemilik Semua Hati…
Ketika doa yang ku panjatkan terlalu berlebihan
Padahal Engkau selalu memberi lebih dari apa yang sebenarnya kubutuhkan
Seharusnya aku malu..
Ketika setiap urusan dirasakan berat untuk dihadapi
Padahal Engkau selalu memberi jalan keluar yang pasti terbaik untuk dilewati
Seharusnya aku malu..
Ketika berpikir bahwa diri ini hanya sendiri
Padahal Engkau selalu menjaga bersama malaikatMU yang setia tanpa henti
Seharusnya aku malu..
Ketika sering mengurangi waktu bersamaMU
Padahal Engkau tak pernah mengurangi nikmat setiap hari dalam hidupku
Seharusnya aku malu..
Ketika berulang kali melakukan kesalahan
Tapi Engkau selalu memaafkan dengan penuh kelembutan..
Wahai Rabbi ,Tuhanku Yang Baik Hati..
Jadikanlah, rasa malu yang sebenar-benarnya dan senantiasa ada
Malu yang menjauhkan diri ini dari kesalahan yang hina
Malu yang membuat diri ini lebih dekat pada Engkau yang Esa
Malu yang membuat diri ini selalu bersyukur atas segala nikmatMU yang indah
dan malu yang membuat hati ini malu jika melupakanMU walau sedetik saja..
Pasti belum sering mendengar kata-kata itu. Saya juga baru dengar tadi siang, ketika kepala bidang memberikan pembekalan. Sebelumnya mau curhat dulu ya..hehe :D
Saya pasti sebel kalau bertemu orang yang bertanya tentang penjurusan saya kuliah, lalu mereka menanggapinya dengan "Loh, emang ga bisa bahasa Indonesia ya?"...seolah-olah mereka tidak respect dengan bahasa yang mereka gunakan sendiri. Aneh, rasanya...tapi hal ini saya tanggapi karena mungkin mereka memang tidak mengenal bahasa Indonesia. Apalagi perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat mempengaruhi masyarakat dalam berbahasa. Orang-orang sekarang ini lebih senang menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Itu pasti karena gengsi. Yang menggunakan bahasa asing merasa dirinya lebih hebat daripada menggunakan bahasa milik sendiri, bahasa Indonesia. Inilah yang dikatakan mental inlandeer.
Mental inlandeer sepertinya memang sudah melekat dalam masyarakat Indonesia. Membeli dan memakai produk import lebih bangga, padahal yang mereka beli di luar negeri itu bisa jadi produk Indonesia yang di eksport. Kalau hal itu pasti sudah banyak yang tahu, tapi kenyataannya masyarakat masih juga begitu. Kenapa?? Masyarakat kita lebih bangga dengan sesuatu yang berhubungan dengan bangsa asing. "Seperti udah warisan turun temurun" kata kabid. Mungkin penyebabnya adalah kembali lagi ke sejarah. Sekian ratus tahun kita dijajah bangsa Belanda. Zaman Belanda, sekolah dibedakan, antara pribumi dan Belanda atau orang-orang keturunan ningrat. Yang bersekolah di sekolah Belanda tentunya lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang bersekolah di sekolah pribumi. Konon, inilah yang menyebabkan bangsa kita lebih gengsi menggunakan segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsa asing hingga kini.
Kondisi itu sulit diubah karena diantara masyarakat kita juga masih banyak menganut feodalisme. Sistem sosial yg mengagung-agungkan jabatan atau pangkat. Mental inlandeer ternyata bisa turun temurun seperti warisan yang belum lekang oleh waktu. Mental inlandeer juga berdampak pada bahasa. Padahal salah satu warisan negara yang masih murni dan belum "diacak-acak" oleh budaya luar adalah bahasa. Seharusnya kita bangga memiliki bahasa yang lahir dari sejarah bangsa sendiri. Bayangkan, jika tidak ada bahasa Indonesia, pluralisme di Indonesia bukan tidak mungkin terpecah belah. Tapi, dengan adanya bahasa Indonesia, bisa mempersatukan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai suku yang ada di Indonesia.
Sebenarnya tidak ada cela juga berbahasa Indonesia. Lihat deh, negara-negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Filiphina. Mereka tidak punya bahasa nasional. Dengan adanya etnis-etnis dengan bahasa yang berbeda-beda, mereka tidak bisa mengambil kebijakan untuk mengambil salah satu bahasa yang ada di negara itu menjadi bahasa nasional karena berdampak pada kondisi politik dalam negeri. Malaysia, bahasa melayu masih berkumandang di sana tapi keberadaannya masih kalah dengan bahasa Inggris sehingga tidak bisa dikatakan bahasa melayu menjadi bahasa nasional karena penggunaannya pun tidak seluas penggunaan bahasa Inggris. Gimana mereka ga iri pada Indonesia? hehe..Satu lagi, Filiphina, sama juga dengan malaysia..bahasa asli mereka bahasa tagalog, tapi kenyataan di lapangan bahasa Inggris yang lebih sering digunakan. Padahal, bahasa itu mencerminkan identitas bangsa. Nah, kalau bahasa nasional aja belum diputuskan keberadaannya, bagaimana dengan identitas bangsanya?...Ayolah, bersikap positif terhadap bahasa sendiri. Bahasa asing perlu tapi tidak menomorduakan bahasa Indonesia. Apalagi sekarang sudah ada UUD No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Kalau presiden aja berpidato di luar negeri menggunakan bahasa Indonesia, apalagi alasan kita untuk tidak berbahasa Indonesia..
Bukan maksudnya nakut2in, tapi kalo abis baca tulisan ini jadi takut, ya apalagi yang mimpi..hehehe..Mimpi yang ga pernah bisa dilupain, malahan langsung ditulis biar jadi pengingat supaya rajin solat. Seolah-olah membuat saya benar-benar sadar adanya kehidupan yang sebenarnya. Akhirat…alam abadi yang kekal. Disanalah tujuan kita yang sebenarnya. Hidup penuh nikmat tak terhingga atau tersiksa. Mimpi itu adalah hari kiamat..*nailbiting*
Setiap orang keluar dari rumah mereka yang dianggap sebagai istana
Burung2 yg terbang damai setiap harinya berhamburan mencari sarangnya tak tentu
arah
Manusia dikagetkan dengan sebuah cahaya surya yang muncul dari ufuk barat
Langit mendung hitam gelap gulita bersama gemuruh guntur yang menggelegar dunia seolah malaikat yang membunyikan sangsakala
Angin berputar-putar menyapu keindahan alam, air bergejolak mengalir bak ingin membersihkan bumi dan seisinya
Gedung2 tinggi jatuh tenggelam ke dalam perut bumi digantikan gedung pengadilan akhirat yang mencekam dengan segala hukuman yang akan dijatuhkan
Dimana lagi manusia berteduh…? siapa yang bisa keluar dari kuasa-Nya? siapa yang selamat di hari kiamat? Tak ada lagi tempat sembunyi, tak ada tempat berteduh lagi dan semua manusia yang DIA cipta hanya bisa menyerahkan diri. Hanya Illahi Robbi yang bisa menyelamatkan setiap manusia…ayo, solat..sebelum hari itu tiba..